Feeds:
Pos
Komentar

Jujur saja, tema yang dicari dan digemari oleh banyak orang adalah tema yang berbau seks (Selalu Enak Kalau Saru). Maka masuk akal jika beberapa waktu lalu dari suatu penelitian ditemukan suatu fakta banyak situs yang paling banyak dibuka dan dibaca oleh orang Indonesia adalah tema-tema yang berbau seks (sex), pornografi, dan hal-hal yang yang menjurus ke arah pornografi.  Sesudah itu baru situs-situs yang menyiarkan berita (baik fakta maupun gosip selebriti), tentang keluarga. agama, dll.  Dan yang paling sedikit adalah yang berbau pendidikan.

Dari fakta di atas, apa yang dapat kita katakan dengan penanaman nilai sejak masa kecil. Nilai apa yang ditanamkan, ditumbuhkan dan dikembangkan sejak dalam keluarga. Apakah penanaman nilainya dengan cara pemaksaan, sehingga ada aspek penolakan dan memilih yang yang bersebrangan dengan nilai yang mau ditanamkan.

Perlu kebijaksanaan dalam penanaman nilai-nilai dasar manusiawi dalam setiap pendidikan untuk menciptakan orang Indonesia yang berkarakter. Prinsip yang harus digunakan adalah prinsip si-kondom (prinsip Situasi, Kondisi dan Domisili) kita, sehingga lebih holistik juga.

The Power of Emotional Choice

Luar biasa kekuatan emosional seseorang. Sebab kekuatan emosional ini bisa mengalahkan kekuatan pikiran. Kekuatan emosional bisa menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu tindakan yang mungkin di luar nalar. Perasaan-perasaan marah, sakit hati, bersalah, marah, tertekan / stress, cemas, gembira, bahagia, atau nyaman akan sangat mempengaruhi seluruh pola berpikir, berbicara dan tindakan orang. Bahkan penilaian akan kehidupan yang dialaminya juga berdasarkan kepada emosi orang. Apakah dunia ini membosankan? Atau dunia ini menyenangkan? Semuanya tergantung dari emosi orang pada waktu itu.

Ada orang berpikir, bahwa perasaan ini tidak bisa diubah. Perasaan hanya dapat diterima apa adanya. Pendapat seperti ini harus cepat-cepat dikoreksi. Misalnya saja: Ada pasangan suami-istri bertengkar hebat, sampai berteriak-teriak dalam mengeluarkan pendapat mereka. Emosi mereka berdua seolah tertumpah semua. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang tamu. Apakah pasangan suami-istri ini tetap melanjutkan pertengkaran mereka, dan tidak mengacuhkan ketukan pintu rumahnya? Mereka berhenti berteriak-teriak. Diam. Bahkan saat membuka pintu rumah, mereka bisa tersenyum kepada sang tamu. Pendek kata emosi orang bisa diubah dan tidak permanen, tergantung dari orang yang bersangkutan.

Maka bagaimana memanfaatkan emosi kita menjadi sumber penggerak ke hal yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan kita? tergantung dari bagaimana kita memanage emosi yang membuat diri kita tidak nyaman, dan mengubahnya menjadi emosi yang kita harapkan ada. Apakah mungkin bisa terjadi? Jawabannya adalah “DAPAT”.

Nilai Keluarga

Orang sering berpikir, “mengapa harus ada nilai-nilai yang wajib dipertahankan oleh semua keluarga?” Pikiran ini bermula dari suatu pendapat, bahwa nilai hanya membatasi orang dalam keluarga tersebut, sehingga tidak dapat bergerak secara bebas.

Memang pada pada dasarnya semua orang bebas bergerak sesuai dengan dinamika yang dia miliki, namun kebebasannya tidak boleh melanggar kebebasan orang lain, yang hidup bersamanya. Bebas di sini tidak dapat diartikan bahwa manusia bebas untuk mempermalukan dan merusak dirinya sendiri. Sebab manusia adalah satu-satunya makhluk yang bermartabat tinggi di hadapan Sang Penciptanya. Maka tidak selayaknya manusia mempermalukan dan merusak dirinya sendiri dan orang lain.

Sehingga kita bisa mengartikan bahwa nilai justru bermanfaat untuk memperlihatkan martabat manusia. Dan bukan sebagai batas ruang gerak aktivitas.

Lalu nilai apa yang hendak kita tampilkan dalam blog ini? Kita akan menjawab, bahwa banyak nilai yang mau kita sajikan dalam forum ini. antara lain: Nilai monogami, nilai tidak terputuskannya ikatan perkawinan dan masih banyak lagi. Nilai-nilai tersebut mungkin sudah berhadapan dengan kebiasaan yang sudah dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, dan nilai-nilai tersebut mungkin sudah dilupakan oleh banyak orang.

Kasus yang ada sekarang adalah larisnya sajian-sajian yang berbau porno, seks, bahkan sajian seksualitas dibanyak media yang menjadi hal yang laris ternyata justru menonjolkan pornografinya dibandingkan aspek pelajarannya.

kita sadar, bahwa tidak akan mampu melawan itu semua. Blog ini hanya sekedar bacaan alternatif untuk mereka yang peduli akan martabat manusiawi yang luhur, yang mulai disemai dalam ladang keluarga kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.